Dokter spesialis anak Soedjatmiko mengatakan anak berusia 7 sampai 12 tahun atau sedang mengenyam pendidikan di sekolah dasar mengalami proses transformasi paling intens dalam kehidupannya.
"Pada tahap ini, anak-anak sedang dalam tahap mengembangkan kemampuan dan pengetahuan yang baru seiring dengan pertumbuhan fisik mereka," kata Soedjatmiko di Jakarta, Rabu 13 April 2016. Namun kenyataannya, menurut dia, masih ada anak-anak di usia tersebut yang mengalami kekurangan asupan gizi.
Soedjatmiko membeberkan sebanyak 11,2 persen anak usia 7 sampai 12 tahun mengalami kekurangan gizi dan 26,4 persen di antaranya mengalami anemia. Padahal, dia melanjutkan, asupan gizi yang mencukupi dapat membantu mengaktifkan sistem sensorik dan proses pembelajaran juga mengaktifkan sistem ekspresi diri.
Soedjatmiko menjelaskan, ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan dan prestasi anak. Pertama faktor internal, yakni genetis, psikologis, dan biologis, seperti gizi, gerak, tidur, dan penyakit. Kedua, faktor eksternal, semisal stimulasi, pembelajaran dari lingkiungan, keluarga, guru, buku , televisi, gadget, model bahkan penokohan superhero.
Dibandingkan anak berusia di bawah lima tahun (balita), Soedjatmiko menjelaskan, anak berumur 7 sampai 12 tahun membutuhkan asupan gizi yang lebih besar karena aktivitasnya lebih banyak di luar rumah. "Sehingga penting untuk memantau kecukupan gizi mereka dengan baik," ujarnya.
Soedjatmiko mengatakan, anak-anak pada usia ini sebaiknya jangan melewatkan sarapan sebagai asupan makanan pertama di pagi hari. Selain itu, di antara sarapan, makan siang, dan makan malam, perlu diselingi dengan makanan tambahan atau snack time, minimal dua kali sehari.
Sebelum tidur, Soedjatmiko mengatakan, anak-anak harus makan atau sekurangnya minum susu. Susu dapat membantu memenuhi asupan gizi anak. Meski tidak ada batasan maksimal susu yang boleh dikonsumsi per hari, Soedjatmiko mengatakan, kebutuhannya cukup 3 sampai 5 gelas susu per hari.
"Anak-anak yang kebutuhan nutrisinya tidak tercukupi secara optimal memiliki resiko terhambatnya pertumbuhan. Bahkan, kekurangan gizi memberikan dampak pada perkembangan fisik, menimbulkan kelelahan dan emosi, serta memberikan dampak kepada keterampilan sosial," katanya. (Dina Andriani)
Sumber:
https://gaya.tempo.co/read/news/2016/04/14/060762494/bentuk-transformasi-yang-terjadi-pada-anak-sekolah-dasar







