<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FPPG (Forum Petani Peduli Gizi) &#187; Sukabumi</title>
	<atom:link href="http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://giziuntukmasadepan.org</link>
	<description>FPPG (Forum Petani Peduli Gizi)</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jul 2018 04:13:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.8.41</generator>
	<item>
		<title>Pelayanan Posyandu di Balai Gizi Ciengang-Sukabumi</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/uncategorized/pelayanan-posyandu-di-balai-gizi-ciengang-sukabumi</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/uncategorized/pelayanan-posyandu-di-balai-gizi-ciengang-sukabumi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2016 08:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Theo Hadi]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Sabtu, 12 Maret 2016 agen nutrisi FPPG Sukabumi, kader posyandu dan Bidan Desa Ciengang melaksanakan pelayanan posyandu di Balai Gizi Ciengang, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan untuk monitoring dan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Desa Ciengang. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Gizi tersebut adalah [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada hari Sabtu, 12 Maret 2016 agen nutrisi FPPG Sukabumi, kader posyandu dan Bidan Desa Ciengang melaksanakan pelayanan posyandu di Balai Gizi Ciengang, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan untuk monitoring dan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Desa Ciengang. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Gizi tersebut adalah pemeriksaan kesehatan bayi, ibu hamil, lansia, dan pemberian vitamin A bagi bayi dan balita. Yang berbeda dari pelaksanaan posyandu kali ini adalah lokasinya yang bertempat di Balai Gizi. Dengan adanya Balai Gizi yang dibuat oleh BWI dan FPPG ini, pelayanan kesehatan menjadi lebih beragam karena mendapat tambahan obat-obatan dan peralatan kesehatan. Dengan adanya Balai Gizi ini diharapkan pelayanan posyandu bisa menjadi lebih baik dan lebih menarik minat masyarakat.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/uncategorized/pelayanan-posyandu-di-balai-gizi-ciengang-sukabumi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angka Kematian Bayi dan Ibu di Sukabumi Cukup Tinggi</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/angka-kematian-bayi-dan-ibu-di-sukabumi-cukup-tinggi</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/angka-kematian-bayi-dan-ibu-di-sukabumi-cukup-tinggi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2015 04:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[adminfppg]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Sukabumi, saat ini peningkatannya cukup mengkhawatirkan. Salah satunya, sampai sekarang AKB dan AKI di Desa Bantaragung, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi masih sangat tinggi. Pada akhir November 2015, tercatat AKB mencapai tiga sampai lima orang. Umumnya, para ibu yang meninggal ketika melahirkan mengalami pendarahan hebat. [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Sukabumi, saat ini peningkatannya cukup mengkhawatirkan. Salah satunya, sampai sekarang AKB dan AKI di Desa Bantaragung, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi masih sangat tinggi. Pada akhir November 2015, tercatat AKB mencapai tiga sampai lima orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Umumnya, para ibu yang meninggal ketika melahirkan mengalami pendarahan hebat. “Selama ini angka kematian ibu dan anak di wilayah desa kami cukup tinggi dibandingkan dengan wilayah desa tetangga lainnya,” kata Kepala Dusun Cikores, Desa Bantaragung, Abdul Kholik kepada Radar Sukabumi, minggu (6/12).</p>
<p style="text-align: justify;">Di 2014 lalu, kata dia, tingkat kematian ibu dan anak di Desa Bantaragung lebih dari empat orang. Mayoritas para ibu melahirkan mengalami kegagalan saat memperoleh rujukan ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Salah satu kendalanya, karena akses jalan desa yang hingga saat ini masih terisolir. Kendala ini yang menjadi penyebab sampai saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika para ibu melahirkan, mengalami kegagalan dan pendarahan hebat sampai tidak bisa tertolong nyawanya. “Selama ini untuk memperoleh pertolongan persalinan ke puskesmas pembantu terdekat di sini, harus ditempuh dengan jarak sekitar 12 kilometer. Itu pun si ibu melahirkan harus terpaksa dibawa dengan cara ditandu, karena ke wilayah ini sangat sulit diakses oleh kendaraan roda dua maupun roda empat,” ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu, kata dia, karena mungkin jarak tempuh jalan kakinya sangat jauh dan harus berjam-jam, sehingga ibu hamil melahirkan dengan kondisi daya tahan tubuh lemah. Sebelum sampai ke tempat persalinan, ibu ada yang meninggal di jalan atau setelah sampai ke tempat persalinan. Oleh sebab itu, kematian ibu yang melahirkan dilatarbelakangi oleh jarak tempuh yang jauh ke tempat persalinan. “Ibu yang melahirkan meninggal di perjalanan atau sudah sampai di tempat persalinan,” tuturnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut dia, bila akes jalan menuju beberapa kedusunan di Desa Bantaragung masih terisolir, kemungkinan setiap tahun AKI dan AKB akan terus meningkat. Untuk itu, ke depan secara bertahap Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi agar dapat memperhatikan masalah peningkatan badan jalan menuju beberapa wilayah di desa ini. “Kalau tidak, mungkin tingkat kematian ibu dan anak di wilayah ini akan sulit terkendali. Setiap tahun mungkin saja ada ibu dan anak meninggal dunia,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain karena terkendala akses jalan, lanjut dia, tingkat sosialisasi mengenai pencegahan kematian ibu dan anak yang dilakukan petugas puskesmas maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi relatif masih sangat rendah. Padahal, pengetahuan ibu melahirkan mengenai pencegahan kematian, saat melahirkan sangat dibutuhkan. “Yang jelas, hingga saat ini khusus wilayah kami sangat sulit tersentuh untuk kegiatan sosialisasi program apapun dari pemerintah. Termasuk sosialisasi mengenai pencegahan ibu dan anak,” paparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Tokoh Masyarakat Desa Bantaragung, Herman mengungkapkan, pihaknya berharap ke depan Pemkab Sukabumi dapat memperhatikan masalah infrastruktur jalan, penerangan lampu listrik dan masalah sarana prasarana layanan kesehatan masyarakat lainnya. Dengan begitu, diharapkan ke depan secara bertahap tingkat kematian ibu dan anak pun bisa terus diminimalisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Peningkatan infrastruktur jalan serta fasilitas kesehatan kesehatan patut untuk ditingkatkan di wilayah kami,” ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi, Iyos Somantri ketika dihubungi mengaku sangat prihatin bila di wilayah pinggiran Kabupaten Sukabumi sangat kesulitan memperoleh pertolongan medis. Untuk itu, ke depan pihaknya akan berusaha memprioritaskan pemerataan pembangunan infrastruktur jalan, penerangan lampu listrik dan kesehatan ke setiap pelosok wilayah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami sungguh prihatin bila memang sampai saat ini masih banyak daerah di Kabupaten Sukabumi yang masih terisolir, terutama belum terjangkaunya oleh layanan medis,” katanya.</p>
<p><a href="http://jabar.pojoksatu.id/sukabumi/2015/12/08/angka-kematian-bayi-dan-ibu-di-kabupaten-sukabumi-cukup-tinggi/" target="_blank">sumber</a></p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/angka-kematian-bayi-dan-ibu-di-sukabumi-cukup-tinggi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Penderita Gizi Buruk di Sukabumi Meninggal</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/remaja-penderita-gizi-buruk-di-sukabumi-meninggal</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/remaja-penderita-gizi-buruk-di-sukabumi-meninggal#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2015 02:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[adminfppg]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Sukabumi - Raju (17), remaja yang menderita gizi buruk warga Kampung Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi Cibadak. "Raju meninggal Senin (2/3) sekitar pukul 04.30 WIB setelah mendapatkan perawatan medis akibat penyakit paru yang juga dideritanya," kata Humas RSUD Sekarwangi Cibadak, Ramdansyah di Sukabumi, Senin (2/3) siang. Menurutnya, [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-197 aligncenter" alt="1378109556" src="http://giziuntukmasadepan.org/wp-content/uploads/2015/10/1378109556.jpg" width="600" height="600" /></p>
<p><strong>Sukabumi</strong> - Raju (17), remaja yang menderita gizi buruk warga Kampung Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi Cibadak.</p>
<p>"Raju meninggal Senin (2/3) sekitar pukul 04.30 WIB setelah mendapatkan perawatan medis akibat penyakit paru yang juga dideritanya," kata Humas RSUD Sekarwangi Cibadak, Ramdansyah di Sukabumi, Senin (2/3) siang.</p>
<p>Menurutnya, penderita gizi buruk ini meninggal karena mengidap berbagai penyakit penyerta seperti tubercolosis (TB) sejak berusia tiga tahun, malnutrisi, pnemonia TB paru aktif (menular), dehidrasi berat dan semenjak dimasukkan ke rumah sakit tubuhnya kekurangan cairan.</p>
<p>Diakuinya, Raju terlambat mendapatkan perawatan medis, bahkan penyakit TB yang diidapnya baru diketahui setelah dirawat di RSUD Sekarwangi. Tim medis yang dibentuk untuk menangani Raju pun sudah berupaya menyembuhkan penyakit, namun karena sudah akut nyawanya tidak berhasil ditolong.</p>
<p>"Jenazah sudah dibawa oleh orang tuanya ke rumah di Kampung Simpenan RT 04 RW 07 Desa/Kecamatan Cikembar. Saat meninggal, Raju juga ditemani oleh kedua orang tuanya yakni Heri (39) dan ibu tirinya Tarsih (29)," ujarnya.</p>
<p>Ia menyesalkan telatnya penanganan medis yang dikarekan beberapa faktor seperti kemiskinan, namun saat ini sudah ada BPJS Kesehatan yang bisa digunakan, apalagi karena malnutrisi penderita gizi buruk ini mudah terserang penyakit.</p>
<p>Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi, Nasihudin mengatakan pada tahun ini berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat yang tergolong dalam Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) salah satunya penderita gizi buruk. Upaya yang dilakukan adalah memberikan makanan tambahan, pengobatan dan pemberian nutrisi sebagai daya tahan tubuh.</p>
<p>"Kami akui dengan luasnya wilayah Kabupaten Sukabumi masih sulit mendata satu persatu penyandang PMKS, maka dari itu informasi dari warga sangat kami perlukan agar cepat ditanggulangi," katanya.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/remaja-penderita-gizi-buruk-di-sukabumi-meninggal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>610 Balita di Sukabumi Alami Gizi Buruk</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/610-balita-di-sukabumi-alami-gizi-buruk</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/610-balita-di-sukabumi-alami-gizi-buruk#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2015 01:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[adminfppg]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat sekitar 610 balita yang ada di wilayahnya dikategorikan mengalami gizi buruk. &#160; “Dari data kami dari sekitar 71 ribu lebih balita di kabupaten, sekitar 0,87 persen atau 610 balita mengalami gizi buruk,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Adrialti Minggu (24/4). &#160; Selain balita gizi buruk, sekitar 10 [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-138 aligncenter" alt="216150_10150167073902341_1165448_n" src="http://giziuntukmasadepan.org/wp-content/uploads/2015/10/216150_10150167073902341_1165448_n.jpg" width="465" height="310" /></p>
<p>Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat sekitar 610 balita yang ada di wilayahnya dikategorikan mengalami gizi buruk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Dari data kami dari sekitar 71 ribu lebih balita di kabupaten, sekitar 0,87 persen atau 610 balita mengalami gizi buruk,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Adrialti Minggu (24/4).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain balita gizi buruk, sekitar 10 persen balita di kabupaten menurut Adrialti mengalami gizi kurang. “Mereka kabanyakan ditemukan di daerah selatan Kabupaten Sukabumi,” tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya memberikan program pemberian makanan tambahan (PMT) kepada balita yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang, selain itu pola hidup sehat pun sudah disosialisasikan untuk mengatasi permasalahan gizi buruk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kami terus berupaya untuk mengatasi permasalahan tersebut,” tutur Adrialti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, Kasie Gizi Dinkes Kabupaten Sukabumi, Dani Sujata, mengungkapkan, dari 610 balita yang mengalami gizi buruk 20 persennya dalam kondisi memprihatinkan. “Sekitar 20 persen balita yang mengalami gizi buruk mereka juga terserang penyakit Tuberculosis (TBC) dan penyakit lainnya,” ungkap Dani.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia mengatakan, agar jumlah balita penyandang gizi buruk di kabupaten berkurang pihaknya secara insentif memberikan bantuan medis dan PMT. Namun, kondisi ini terkendala oleh perilaku orang tua yang kurang memberikan asupan gizi kepada balitanya dengan alasan kemiskinan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kami pun sudah menugaskan pengawas dari dinkes untuk terus memantau perkembangan balita yang mengalami gizi buruk dan mudah-mudahan dengan cara seperti ini jumlah balita yang mengalami gizi buruk berkurang,” harapnya. (<a href="http://mediaindonesia.com/" target="_blank" rel="nofollow">mediaindonesia.com</a>, 24/4/2011)</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/sukabumi/610-balita-di-sukabumi-alami-gizi-buruk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
