<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FPPG (Forum Petani Peduli Gizi) &#187; Sumedang</title>
	<atom:link href="http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://giziuntukmasadepan.org</link>
	<description>FPPG (Forum Petani Peduli Gizi)</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jul 2018 04:13:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.8.41</generator>
	<item>
		<title>Woman Montly Meeting di Ganjaresik &#8211; Sumedang</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/woman-montly-meeting-di-ganjaresik-sumedang</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/woman-montly-meeting-di-ganjaresik-sumedang#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2016 08:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Theo Hadi]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Di masyarakat pedesaan, ibu memiliki peran yang besar terhadap tumbuh kembang anak. Setiap makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak tidak lepas dari campur tangan seorang ibu. Maka, dapat dikatakan bahwa gizi untuk anak-anak dipengaruhi oleh makanan yang disediakan oleh seorang ibu. Semakin baik gizi dalam makanan maka perkembangan anak akan semakin baik. Guna mencapai tumbuh kembang [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di masyarakat pedesaan, ibu memiliki peran yang besar terhadap tumbuh kembang anak. Setiap makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak tidak lepas dari campur tangan seorang ibu. Maka, dapat dikatakan bahwa gizi untuk anak-anak dipengaruhi oleh makanan yang disediakan oleh seorang ibu. Semakin baik gizi dalam makanan maka perkembangan anak akan semakin baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Guna mencapai tumbuh kembang yang baik, maka perlu dilaksanakan sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan. BWI dan FPPG Kab. Sumedang bekerjasama menggagas sosialisasi tersebut yang diadakan pada tanggal 31 Oktober 2015 di Masjid Ganjaresik, Desa Gajaresik, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh istri petani teh, kader posyandu, dan agen nutrisi FPPG Sumedang. Pertemuan ini menjadi awal bagi penyampaian materi tumbuh kembang anak yang harapannya bisa dilanjutkan oleh peserta untuk menyampaikan informasi dari materi tersebut kepada keluarga dan masyarakat sekitar.</p>
<p style="text-align: justify;">Materi disampaikan oleh Bapak Adhit, Theo (BWI) dan Bapak Sutisna (FPPG). Beberapa materi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah pilar gizi seimbang, ASI ekslusif, dan pentingnya garam beryodium. Point penting dalam materi yang disampaikan adalah gizi mempengaruhi tumbuh kembang anak yang dapat memberikan dampak positif bagi masa depan anak. Maka gizi untuk anak perlu untuk dipenuhi sejak usia dini yang dimulai dengan peningkatan pemahaman gizi seorang ibu.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/woman-montly-meeting-di-ganjaresik-sumedang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balita di Sumedang Kelebihan Gizi 1,1%</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/balita-kelebihan-gizi-11</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/balita-kelebihan-gizi-11#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2015 08:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Theo Hadi]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Dari 73.000 balita di Kabupaten Sumedang, 1,1% masuk kedalam kategori balita berkelebihan gizi (obesitas). Angka itu jauh lebih besar bila dibanding dengan balita bergizi buruk yang hanya mencapai 0,6%. Kendati begitu, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang Agus Rasjidi, keduanya (gizi berlebih dan gizi buruk) tidak baik bagi proses tumbuh kembang balita. “Balita dengan kelebihan gizi [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari 73.000 balita di Kabupaten Sumedang, 1,1% masuk kedalam kategori balita berkelebihan gizi (obesitas). Angka itu jauh lebih besar bila dibanding dengan balita bergizi buruk yang hanya mencapai 0,6%. Kendati begitu, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang Agus Rasjidi, keduanya (gizi berlebih dan gizi buruk) tidak baik bagi proses tumbuh kembang balita. “Balita dengan kelebihan gizi biasanya akan mengalami kegemukan atau kelebihan berat badan ketika dewasa sehingga berpotensi terserang berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes, stroke, dan serangan jantung,” ujarnya ditemui di kantor Dinas Kesehatan di Jalan Kutamaya, kemarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu penyebab tingginya kasus kelebihan gizi, kata dia, buruknya pemberian asupan makanan kepada bayi dan balita. Hal ini menyebabkan pola konsumsi yang buruk sejak usia dini. “Jika dulu obesitas hanya menimpa kalangan mampu, ternyata ini melanda seluruh lapisan masyarakat di Sumedang,” tuturnya. Untuk mengatasi hal ini, kata dia, perencanaan gizi bagi anak sangat diperlukan, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua diharapkan bisa membentuk landasan masa depan kesehatan anak. “Dimulai sejak masa kehamilan, menyusui, hingga dua tahun pertama masa balita. Anak gemuk belum tentu sehat,” sebutnya. Beberapa cara, lanjut dia, dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gizi berlebih pada anak, yakni dengan melakukan penimbangan atau pemeriksaan rutin di pos pelayanan terpadu (posyandu).</p>
<p style="text-align: justify;">“Sayangnya, yang terjadi di Sumedang, tingkat kesadaran ibu untuk memeriksakan anaknya ke posyandu secara berkala, sangat rendah. Ini salah satu yang menyebabkan pertumbuhan anak tidak terkontrol secara jelas,” terangnya. Oleh karenanya, dia mengimbau, warga yang mempunyai balita untuk rutin secara berkala datang ke posyandu, sehingga perkembangan balita bisa terkontrol.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dengan begitu, selain pertumbuhan balita bisa termonitor secara jelas, juga bisa mengantisipasi secara dini penyakit anak. Terutama bagi kalangan menengah ke atas, sudah jarang sekali mereka mau ke posyandu karena gengsi,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: <a href="http://www.koran-sindo.com/news.php?r=5&amp;n=23&amp;date=2015-11-12">http://www.koran-sindo.com/news.php?r=5&amp;n=23&amp;date=2015-11-12</a></p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/balita-kelebihan-gizi-11/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waduh, Terungkap 167 Remaja di Sumedang Pernah Melakukan Sex Pranikah</title>
		<link>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/waduh-terungkap-167-remaja-di-sumedang-pernah-melakukan-sex-pranikah</link>
		<comments>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/waduh-terungkap-167-remaja-di-sumedang-pernah-melakukan-sex-pranikah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2015 01:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[adminfppg]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://giziuntukmasadepan.org/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[KOTA-Para orangtua di Sumedang harus lebih hati-hati dalam memantau perkembangan anaknya yang sudah memasuki usia remaja, antara 10-18 tahun. Karena sebuah penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, menghasilkan data yang mencengangkan. Menurut catatan pada Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) hasil dari konseling terhadap 46.809 terungkap 167 remaja sudah pernah melakukan seks pra nikah. “Program [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-167 aligncenter" alt="tatamba-smtv-2yqonjrkgn1kblf2kvs0ei" src="http://giziuntukmasadepan.org/wp-content/uploads/2015/10/tatamba-smtv-2yqonjrkgn1kblf2kvs0ei.jpg" width="460" height="230" /></p>
<p>KOTA-Para orangtua di Sumedang harus lebih hati-hati dalam memantau perkembangan anaknya yang sudah memasuki usia remaja, antara 10-18 tahun. Karena sebuah penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, menghasilkan data yang mencengangkan.</p>
<p>Menurut catatan pada Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) hasil dari konseling terhadap 46.809 terungkap 167 remaja sudah pernah melakukan seks pra nikah.</p>
<p>“Program yang kami laksanakan disebut PKPR ditingkat puskesmas. Laporan yang kami terima, bahwa kita sudah melakukan konseling atau pelayanan terhadap remaja itu sebanyak 46.809 remaja. Ada kasus sex pranikah, sebelum nikah mereka sudah berterus terang sudah melakukan seks, itu ada 167 kasus. Ini memang fenomena gunung es. Jadi, yang kelihatan itu hanya puncaknya saja. Tapi data yang sesungguhnya, bisa jadi justru lebih banyak kasus-kasus seperti ini,” kata Kabid Kesehatan Keluarga pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Uyu Wahyudi, saat siaran Langsung Tatamba (acara konsultasi kesehatan) di 29 UHF SMTV.</p>
<p>Selain itu pula, terungkap adanya 2.128 remaja yang mengalami kehamilan. “Ini sangat mencengangkan kita juga. Ada 2.128 kasus kehamilan pada remaja, artinya pada usia di bawah 18 tahun, remaja ada yang mengalami kehamilan,” ungkapnya.</p>
<p>Penelitian itu juga menemukan, adanya pada usia di bawah 18 tahun, para remaja sudah melakukan persalinan atau melahirkan, sebanyak 830 kasus. “Kasus abortus, ini akibat usia remaja yang belum saatnya hamil kemudian karena terpaksa harus mengalami kehamilan juga datanya ada 70 remaja,” terangnya.</p>
<p>Sementara itu, terdapat 2.274 kasus gangguan gizi pada remaja. Infeksi Menular Seksual (IMS) sebanyak 94 kasus. Sebanyak 2.166 remaja sudah melakukan napza. “Itu kan yang sangat dilarang oleh undang-undang. Bahaya Narkoba memang sulit dibendung, dan pada saat remaja banyak yang terkena dan ketagihan. Termasuk adanya remaja yang terkena HIV/Aids 18 jiwa,” ungkapnya miris.***</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://giziuntukmasadepan.org/sumedang/waduh-terungkap-167-remaja-di-sumedang-pernah-melakukan-sex-pranikah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
